tugu kebanggaan warga Bogor

tugu kebanggaan warga Bogor
Kujang

Selasa, 02 Agustus 2011

Wisata Kawasan Gunung Salak

WISATA PETUALANGAN KE GUNUNG SALAK
 
Bagi masyarakat yang hobi dan suka alam bebas, Gunung salak merupakan salah satu tujuan mereka guna memenuhi kepuasan untuk bagaimana caranya menghargai dan mencintai alam. Gunung Salak mempunyai pemandangan dan pesona alam yang masih asri. Bila Anda ingin mencoba wisata petualangan dengan mendaki Gunung Salak, Anda dapat menggunakan beberapa jalur pendakian, salah satunya melalui Jalur Girijaya dan Jalur Kutajaya (Cimelati).

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, karena terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Selain itu terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah. Sedangkan di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, salah satunya adalah makam keramat dan ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi.

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa dan licin sekali. Selain itu angin seringkali bertiup kencang. Sebenarnya gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur, di antaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi. Dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berziarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Desa Kutajaya / Cimelati.

Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam.

Dari bumi perkemahan menuju shelter I, jalur awalnya cukup curam, berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kemudian akan memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian Anda akan melewati jalur yang bervariasi, datar, naik dan turun.

Menuju shelter II, jalur mulai lembab dan basah. Beberapa sungai kecil akan Anda lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Anda akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka di sekitar jalur ini.

Di shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat, dan di dekat shelter II ini juga terdapat sungai. Menuju shelter III, Anda akan melewati jalan-jalan yang becek dan berlumpur. Bahkan di beberapa tempat, jalur berupa tanah licin yang curam, namun Anda masih agak tertolong adanya akar-akar pohon.

Untuk menuju shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat Anda akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Anda akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya Anda mengambil air bersih disungai tersebut karena di sanalah sumber air bersih terakhir yang bisa dijumpai.

Shelter IV merupakan persimpangan jalan. Untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini Anda juga dapat mendirikan tenda.

Bagaimana, cukup seru bukan? nah buat Anda yang hobi wisata petualangan, tidak ada salahnya jika mencoba mendaki Gunung Salak, selain untuk memuaskan hati, Anda juga bisa merasakan keindahan alam yang tak ternilai harganya.  (IP) 

Senin, 01 Agustus 2011

Sejarah Kota Bogor....Penelitian Masyarakat


Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berati pohon kawung dan kata kerja “dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kaeung. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, ?L “Bogor” berarti “droogetapte kawoeng” (pohon enau yang telah habis disadap) atau “bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”. Akan tetapi dalam bahasa Sunda “muguran dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwaBogor
itu berarti “pamogoran” bisa dianggap terlalu iseng.Istana Bogor 1925
Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579,

kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang sunda terah Sumedang.
Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan memulai
daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.
Pada tahun 1745

Bogor ditetapkan Sebagai Kota Buitenzorg yg artinya kota
tanpa kesibukan dengan sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang, daerah tersebut disebut Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff (1740) dibangunlah tempat peristirahatan, pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.Gedung Kejaksaan Tahun 1875 


Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor (sampai sekarang) Pada tahun 1808, Bogor diresmikan sebagai pusat
kedudukan dan kediaman Resmi Gubernur Jenderal. Tahun 1904 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 4 tahun 1904 Hoofplaats Buitenzorg mencantumkan luas wilayah 1.205 yang terdiri dari 2 Kecamatan & 7 Desa, diproyeksikan untuk 30.000 Jiwa .
Pada tahun 1905 Buitenzorg diubah menjadi GEMMENTE berdasarkan Staatblad 1926 yg kemudian disempurnakan dengan Staatblad 1926 Nomor 328.
Tahun 1924 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 289 tahun 1924 ditambah dengan desa Bantar jati adn desa Tegal Lega seluas 951 ha, sehingga mencapai luas 2.156 ha, diproyeksikan untuk 50.000 Jiwa.
Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1941, Buitenzorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya sendiri.Keputusan dari gubernur Jendral Belanda di Hindia Belanda No. 11 tahun 1866, No. 208 tahun 1905 dan No. 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 Km persegi, terdiri dari 2 sub distrik dan 7 desa.
Berdasarkan UU No. 16 tahun 1950 Kota Bogor ditetapkan menjadi Kota besar dan Kota Praja yang terbagi dalam 2 wilayah Kecamatan & 16 lingkungan.tahun 1981 Jml. Kelurahan menjadi 22 Kelurahan, 5 kecamatan & 1 Perwakilan kecamatan.
Terakhir berdasarkan PP.No. 44/ 1992 Perwakilan Kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan, Kini terdapat 6 Kecamatan dan 68 Kelurahan.
Ditengah ? tengah kota terdapat ?Kebun Raya Bogor? yang dibangun sejak Tahun 1817 oleh seorang ahli botani yaitu Prof.Dr.RC.Reinwardth dengan luas 87 Ha dan terdapat ? 20.000 jenis tanaman yang tergolong dalan 6000 Species dan merupakan Kebun Raya terbesar di Asia Tenggara.



Letak Kota Bogor
Posisi geografis Kota Bogor yang cukup strategis, karena dekat dengan Ibu kota Negara dan berjarak 54 km dari Jakarta, dikelilingi Gunung Salak, Pangrango dan Gede, terletak pada 106?48′ Bujur Timur dan 60? 36′ Lintang Selatan dengan ketinggian minimum 190 meter dan maksimum 330 meter diatas permukaan laut Luas Wilayah Kota Bogor 11.850 hektar. Kota Bogor terdiri dari 6 kecamatan 68 kelurahan, yang berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Wilayah Kecamatan Kemang, Kecamatan Bojong Gede dan Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor
Sebelah Barat : Wilayah Kecamatan Dramaga dan Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor
Sebelah Timur : Wilayah Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan ciawi, Kabupaten Bogor
Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin, Kab. Bogor.





Kondisi Kota Saat Ini
Fisik dan Lingkungan; 
Kota Bogor merupakan salah satu kota dalam wilayah Jabotabek. Berjarak 54 Km dariJakarta dengan akses yang tinggi melalui tol Jagorawi. Kota dengan luas 11.850 ha ini terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan, berpenduduk 750.000 jiwa (2001) dengan kepadatan rata-rata 70 jiwa/ha. Kota Bogor yang sering disebut sebagai kota hujan ini memang merupakan kota yang hijau dan sejuk. Berdiri 520 tahun yang lalu dan sekarang menjadi kawasan permukiman yang ideal di wilayah Jabodetabek, dimana 64% dari wilayah kota adalah kawasan permukiman (terdapat lebih dari 50 kawasan hunian mewah (real estate) dan sebagian lainnya merupakan kawasan hijau terbuka (29%).
Kebun Raya (87 ha) dan Istana Bogor yang telah berdiri sejak tahun 1817 merupakan ciri khas Kota Bogor yang berada ditengah-tengah pusat kota. Kawasan lingkar luar Kebun Raya merupakan pusat aktivitas utama Kota Bogor, seperti Ps. Bogor, Terminal Bus Baranangsiang, Ps. Anyar, Stasiun Kereta Api, Kantor pemda, Sekolah Regina Pacis dan SMU 1, Herbarium, Museum Zoologi, kantor perbankan dan jasa lainnya. Saat ini terdapat 20 perguruan tinggi, diantaranya adalah IPB serta bertebarannya pusat-pusat penelitian nasional dan internasional seperti Balai Penelitian Pertanahan, CIFOR dan lain-lain. Mencermati situasi dan kondisi diatas Pemerintah Kota Bogor mencoba melangkah ke masa depan dengan menggulirkan visi : Kota Dalam Taman Menuju Kota Internasional.
Ekonomi; 
Tingkat pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Bogor mencapai 4,6 % dengan PAD sebesar Rp.26,7 Milyar (tahun 2001). Sementara itu pendapatan perkapita rata-rata adalah Rp. 3.200.000 /tahun. Kegiatan ekonomi yang menonjol adalah jasa, industri tekstil dan pakaian jadi, agroindustri ataupun agrobisnis yang produknya diekspor kemanca negara. Dalam konstelasi Jawa Barat, Kota Bogor merupakan salah satu simpul penting perdagangan regional. Kota Bogor sendiri sangat dikenal dengan kota wisata jajanan dan makanan, diantaranya yang terkenal adalah Asinan dan Talas Bogor, Roti Unyil, Bogor Permai, Ayam Goreng Fatmawati, Minuman kesehatan Java Nony, Tas Tajur dan belakangan ini bertumbuh kembang beberapa mall dan factory outlet.
Sosial budaya; 
masyarakat Bogor adalah masyarakat yang religius dan egaliter (terbuka) serta mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup tinggi, baik dengan sesama etnis, antar etnis/pendatang maupun antar strata sosial-ekonomi yang berbeda. Ini menjadi faktor utama terciptanya kedamaian di tengah-tengah masyarakat. Pada masa chaos nasional maupun saat ini, Kota Bogor terhindar dari kerusuhan ataupun penjarahan. Meskipun demikian masyarakat Kota Bogor adalah masyarakat kritis dan dinamis, sehingga dikenal juga dengan Kota Dialog. Festival Bogor dan Helaran yang digelar setiap tahun menjadi ajang aksi, atraksi dan aktualisasi seni-budaya masyarakat Bogor.
SDM; 
Karena Kota Bogor adalah kota permukiman dan terdapat banyak perguruan tinggi, maka sangat wajar kalau SDM warga Bogor sangat potensial, mulai dari pengusaha, pakar, intelektual, aktivis LSM, politikus, budayawan, ulama, teknokrat sampai birokrat yang kapasitasnya bertaraf nasional, bahkan internasional. Secara umum juga perlu disampaikan bahwa Kota Bogor merupakan kota dengan indeks pendidikan dan indeks prestasi manusia tertinggi di Jawa Barat.
Fasilitas & Utilitas; 
Sebagian besar penduduk Kota Bogor sudah mendapatkan pelayanan listrik, telepon, air bersih dan sebagian kecil sudah mendapat pelayanan gas alam. Pelanggan listrik sampai akhir tahun 2001 mencapai 238.703 KK, telepon 336.162 sambungan dan layanan air bersih 60.930 sambungan. Saat ini terdapat 5 Rumah Sakit besar, sebuah IPAL, 4 unit insinerator, 5 mall, 3 pasar induk dan tradisional, 20 perguruan tinggi, puluhan sekolah SD, SMP, SMU, 5 hotel berbintang, dll.
Permasalahan kota; 
dengan fungsi kota sebagai kawasan permukiman, kondisi kota yang sentris, topografi yang bergelombang, adanya keterbatasan Pemda (SDM dan finansial) serta faktor eksternal lainnya telah menyebabkan berbagai persoalan kota, seperti kemacetan lalulintas, masalah pedagang kaki lima, kemiskinan, kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat, masalah pendidikan dan masalah good governance. Seluruh isu kota
ini dirumuskan bersama warga melalui berbagai pertemuan warga (public meeting).(Sumber : Forum Warga Bogor)

BOGOR TEMPO DOELOE


BOGOR TEMPO DOELOE

Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Luasnya 21,56 km², dan jumlah penduduknya 834.000 jiwa (2003). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan.
Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit'n-zôrkh", bœit'-) yang berarti "tanpa kecemasan" atau "aman tenteram".
Hari jadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor diperingati setiap tanggal 3 Juni, karena tanggal 3 Juni 1482 merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.
Bogor (berarti "enau") telah lama dikenal dijadikan pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Di sinilah berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi berdiri sejak abad ke-19. Salah satunya yaitu, Institut Pertanian Bogor, berdiri sejak awal abad ke-20 (Wikipedia)

Nah, pada kesempatan sekarang saya ingin memperlihatkan bagaiman Kota Bogor tempo doeloe (baca:dulu).
Mungkin ada beberapa ciri khas dari kota Bogor yang belum berubah sampai sekarang. Hal ini sengaja dilakukan pemerintah untuk menjaga kelestarian budaya Bogor yang sesungguhnya. Foto-foto berikut ini diambil pada akhir 1700an sampai awal 1900an.